Home » , , » Penanganan Panen dan Pasca Panen pada Tanaman Kacang Panjang

Penanganan Panen dan Pasca Panen pada Tanaman Kacang Panjang

Written By Unknown on Senin, 27 Mei 2013 | 23.53

Seperti sifat sayuran pada umumnya, kacang panjang merupakan komoditi yang tidak tahan lama, mudah busuk dan cepat menurun kualitasnya. Untuk melindungi hasil panen dari kerusakan dan mempertahankan kualitas produk agar dapat diterima konsumen dalam keadaan segar maka perlu dilakukan penanganan panen dan pasca panen. Penanganan panen dan pascapanen sebaiknya dilakukan secara cermat dan hati-hati agar diperoleh hasil yang baik.

A. Panen
Perlakuan panen akan mempengaruhi hasil serta proses penanganan selanjutnya. Penanganan panen yang baik akan memberikan kualitas produksi yang baik pula. Dalam pemanenan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain usia panen dan cara panen.

 

1. Ciri dan Umur panen
Panen kacang panjang dibedakan 2 macam, yaitu panen polong muda dan panen polong tua atau biji-bijinya.
Panen Polong Muda. Pada umumnya pemanenan polong muda kacang panjang pertama kali dapat dilakukan setelah berumur 45 hari. Umur panen ini tergantung pada varietas, musim dan tinggi rendahnya daerah penanaman. Polong muda sudah dapat dipanen sesudah terisi penuh dan warna polongnya hijau merata sampai hijau keputihan. Polong yang muda mudah dipatahkan. Semakin tua polong akan semakin liat, berserat, dan warnanya menguning. Oleh karena itu, pemanenan sebaiknya tidak sampai terlambat. Polong yang terlambat dipanen kurang baik untuk disayur dan tidak dapat dipasarkan.

Pemanenan umumnya dilakukan pada pagi hari dan setelah dipanen biasanya kacang panjang langsung dipasarkan pada siang atau sore harinya. Untuk mendapatkan kacang panjang segar yang berkualitas baik, polong harus dipanen dengan selang waktu tiga hari sekali. Setelah tanaman berumur sekitar 3-3,5 bulan pemanenan dihentikan, pada saat itu biasanya buahnya sudah habis.

Panen Polong Tua. Dilakukan untuk kacang panjang tipe tegak seperti kacang tunggak dan kacang uci. Ciri-ciri kacang siap dipanen adalah polongnya telah cukup tua, biji-biji menonjol dan kulit luar berwarna hijau kekuningan. Umur panen 3-3,5 bulan dan waktu panen pada pagi atau sore hari.

2. Cara Panen
Pemanenan kacang panjang dilakukan dengan cara memetik yaitu dengan memutar bagian pangkal polong agar polong terlepas seluruhnya dan tidak menimbulkan luka yang besar. Panen dengan memutar hingga seluruh polong terlepas dari tangkainya dapat merangsang pembentukan buah baru lebih cepat. Cara panen dengan memetik di bagian pangkal polong dapat meningkatkan hasil sampai 25%. Apabila panen dilakukan dengan menyisakan sedikit polong pada tiap tangkai akan menghasilkan 2-4 buah. Namun bila seluruh polong dipetik, tanaman mampu menghasilkan 4-6 polong tiap tangkai.

Biasanya pemetikan polong dapat dilakukan 5-15 kali, sampai polongnya habis semua. Untuk kacang panjang tipe tegak, pemanenan dengan cara mencabut atau memotong pangkal batang tanaman setinggi 10-15 cm dari permukaan tanah. Selepas panen, polong kacang panjang dikumpulkan ditempat penampungan, dicuci dan ditiriskan sedangkan untuk kacang polong tua, setelah dikumpulkan, dikeringkan dengan dijemur.

B. Penanganan Pasca Panen

Penanganan pasca panen kacang panjang antara lain sortasi, pengemasan dan pengangkutan.  

1. Sortasi.
Tidak semua kacang yang telah dipanen layak dipasarkan, sehingga perlu disortasi atau pemilahan berdasarkan kualitas dan keseragaman, Polong kacang panjang dipilah antara yang baik dan yang cacat. Polong yang cacat berbintik hitam, berlubang, atau busuk disisihkan. Ukuran sasaran ekspor, kriteria ketuaan paling muda yaitu ukuran polong sesuai permintaan pasar, tingkat ketuaan polong tergolong muda, penampilan biji tidak menonjol dan berwarna hijau dan segar. Sedangkan polong tua yang sudah kering dipisahkan dari kulit polong dan biji dikeringkan sampai 12%-14% kadar airnya. Untuk pasar tradisional, sortasi kurang diperhatikan karena pasar tradisional tidak menuntut keseragaman kualitas yang baik sedangkan pasar swalayan yang menghendaki produk yang seragam dan baik kualitasnya.

2. Pengemasan
Pengemasan bertujuan untuk memudahkan dalam pengangkutan. Kacang panjang yang akan dipasarkan di pasar tradisional biasanya tidak dikemas secara khusus. Pengemasan dilakukan sederhana dalam bentuk ikatan besar atau kecil yang beratnya sekitar 250-2.000 gram tiap ikat. Ikatan kacang panjang biasanya menggunakan tali rafia atau tali bambu. Ikatan dikemas dalam karung goni yang berventilasi atau dalam kantong plastik polyelene. Setelah diikat, sayuran langsung disusun pada kendaraan pengangkut. Penyusunan diatur agar tumpukan tidak terlalu padat karena akan merusak sayuran. Apabila kacang panjang akan dipasarkan untuk jarak jauh, sebaiknya dikemas dalam peti, keranjang bambu atau plastik agar tidak cepat rusak.
Untuk konsumsi pasar swalayan, kacang panjang juga dikemas sederhana. Setiap kelompok diikat dengan plastik isolasi dan diberi label. Ikatan-ikatan tersebut dimasukkan ke dalam keranjang plastik, selanjutnya siap dipasarkan.

Untuk polong tua dikemas dalam kaleng yang tertutup rapat, sebelumnya dimasukkan ke dalam wadah sebaiknya dicampur dulu dengan minyak jagung supaya terlindung dari hama penggerek.

3. Pengangkutan

Untuk pemasaran jarak jauh diusahakan sayuran terlindung dari sinar matahari dan hujan agar tidak cepat layu atau busuk. Sebaiknya kacang panjang yang selesai dipanen langsung diangkut agar diterima konsumen dalam keadaan masih segar.

Sumber :
  1. Eko Haryanto, T. Suhartini, Ester Rahayu, "Budidaya Kacang Panjang", 2008
  2. Cybex Deptan 

0 komentar:

Posting Komentar

KIA Design Consulting

KIA Design Consulting